BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Seringkali kali kita
dibuat penasaran dari manakah sumber pendapatan perusahaan ketika memberikan
layanan tanpa berbayar alias gratis atau bahkan memberikan jasa dengan
menawarkan subsidi sehingga jasa yang diberikan jauh lebih murah ketimbang yang
disediakan oleh pasar. Itulah yang dilakukan perusahaanperusahaan yang merajai
pada era Revolusi Industri 4.0 sebagaimana dilakukan Google, Facebook, Uber,
Airbnb, dll.
Perusahaan-perusahaan
tadi berhasil merebut hati para konsumen sehingga tanpa sadar mereka terjerat
menggunakan jasa yang disediakan, dan tanpa sadar pula para pengguna tadi telah
menjadi komoditas yang dapat dijual kembali kepada perusahaan komersial
lainnya. Lalu-intas (traffic) pengguna layanan yang telah melalui proses
produksi menjadi komoditas untuk menghasilkan pendapatan secara tidak langsung.
Fenomena ini menarik untuk ditelusuri lebih mendalam. Lewat makalah ini semoga
pembaca dapat memahami apa itu industry 4.0 dan pengaruh terhadap industry
konvensional serta peran pelaku Sistem Informasi didalammnya.
1.2.Rumusan Masalah
1.
Apa yang di maksud Industri 4.0 ?
2. Bagaimana
kesiapan Indonesia dalam menghadapi Industri
4.0 ?
3. Apa
pengaruh Industri 4.0 terhadap Industri
Konvensional ?
4. Apa
peran kita
anak Sistem Informasi UNIPDU didalam Industri
4.0 ?
1.3.Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan makalah:
1. Menjelaskan apa itu
Industri 4.0
2. Menjelaskan kesiapan Indonesia dalam
Industri 4.0
3. Menjelaskan pengaruh Industri 4.0
terhadap Industri Konvensional yang sudah ada
4. Menjelaskan peran Sistem Informasi
pada Industri 4.0
1.4. Manfaat penulisan
1. Meningkatkan pemahaman
mahasiswa tentang Industri 4.0
2. Meningkatkan pemahaman
mahasiswa tentang studi kasus yang ada dalam Industri 4.0
3 Meningkatkan pemahaman
mahasiswa tentang peran pemerintah didalam era Industri yang baru
4. Meningkatkan pemahaman
mahasiswa tentang peran SIstem Informasi di dalam Industri 4.0
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
INDUSTRI 4.0
Revolusi industri
generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar,
kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang
memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang
disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World
Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi
pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh
kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18.
Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara
dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan
rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.
Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai
dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber).
Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll
yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri
generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.
Selanjutnya, pada
revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan pada
pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology)
hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent.
Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban
dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini,
ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan
menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan
oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di
seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa
pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan
bukan yang besar memangsa yang kecil.
Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan
instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk melakukan introspeksi
diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan berjudul An
Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang
memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif
teknologi.
Tahap pertama,
sinyal di tengah kebisingan (signals amidst the noise). Pada
tahun 1990, Polygram dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar
di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja
ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat
itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.
Contoh lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang
mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang
mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal
Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus
memanfaatkan peluang bisnis.
Perusahaan ini melakukan
disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya
menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini,
perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat
dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti
tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran
lingkungan bisnis.
Tahap kedua,
perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada
tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi
ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan
sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih
menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum
signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika
menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD
menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar yang berhasil
menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti
kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.
Tahap ketiga,
transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation).
Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari
model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan
mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian,
transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaan incumbent relatif
sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif
perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan
model bisnis baru.
Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan
pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan
mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis
perusahaan incumbent.
Tahap keempat,
adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal).
Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki
pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena
fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak
lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbent hanya
dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.Pada tahap ini pun para pengambil
keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil
keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi
sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari
tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi
dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat. Tantangan terberat
justru kepada para market leader di mana biasanya merasa
superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor
yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu
terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis
dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).
Reed Hasting, CEO
Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena
bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah
perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.
Manufaktur yang terhubung secara digital, yang seringkali disebut sebagai “Industry 4.0”, mencakup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printinghingga robotik, jenis material baru serta sistem produksi.Langkah menuju Industry 4.0 ini akan memberikan manfaat bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories . Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti sensor, robotik, 3D printing atau teknologi komunikasi antar mesin.
Perusahaan
yang siap menyambut revolusi industri ini adalah mereka yang dapat membangun
ekosistem produksi berbasis konsep Industry 4.0, seperti
perusahaan-perusahaan platform-as-services
(PaaS),
seperti Pivotal, serta perusahaan-perusahaan lain yang dapat menyediakan
infrastruktur jaringan untuk Industrial Internet. Tak heran,
meskipun konsep Industry 4.0 ini masih merupakan hal yang
baru, baik negara-negara maju maupun berkembang sudah siap menyambutnya,
tentunya dengan alasan yang berbeda.
Bagi
negara-negara maju, Industry 4.0 – sebuah istilah yang pertama
kali diciptakan di Jerman – dapat menjadi cara untuk mendapatkan kembali daya
saing infrastruktur, khususnya bagi negara-negara Eropa Barat, yang saat ini
tidak mengalami pemotongan biaya listrik seperti di AS.
Bagi
negara-negara berkembang, Industry 4.0 dapat membantu
menyederhanakan rantai suplai produksi, yang dalam hal ini sangat dibutuhkan
guna mengakali biaya tenaga kerja yang kian meningkat. Sebagai contoh, rencana
10 tahun Cina yang diumumkan bulan Mei tahun lalu yang berjudul “Made in
China 2025”,
menargetkan sektor-sektor inti seperti robotik, teknologi informasi dan energi,
dalam upaya mengubah negara yang kini dikenal sebagai “raksasa manufaktur”
menjadi “penggerak manufaktur dunia” – untuk itu, Cina akan menggempur nilai
investasi R&D hingga 1,7% dari jumlah total pendapatan manufaktur di tahun
2025.
Produsen
besar yang terintegrasi seperti Intel atau GE sudah mulai bersiap-siap. Hanya
dalam 18 bulan, Industrial Internet Consortium (IIC) yang didirikan oleh
keduanya, bekerjasama dengan IBM, AT&T dan Cisco, berkembang dari hanya
beranggotakan lima perusahaan hingga saat ini telah beranggotakan 200
perusahaan besar maupun kecil. Meski menjanjikan, masih banyak hal yang harus
dilakukan untuk mewujudkan Industry 4.0 dalam skala besar.
Contohnya, dalam hal regulasi, para perancang kebijakan harus dapat memastikan
arus data, yang merupakan jantung dari Industry 4.0, dapat bergerak
dengan bebas dan aman melalui rantai suplai secara lintas
negara. Hal
ini akan memakan waktu yang tidak sedikit.
Selain
itu, sektor swasta harus membuktikan bahwa keuntungan yang didapat dari Industry
4.0 dapat melampaui biaya yang harus dikeluarkan – baik dari segi
modal maupun politik. Hal ini sudah mulai dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
seperti GE, BELECTRIC dan Kofler Energies yang menguji potensi Industrial
Internet dalam menggabungkan panas dan pembangkitan listrik; atau upaya IIC menjalankan
proyek-proyek percobaan. Percobaan yang terbaru yang dilakukan IIC adalah
menyediakan komponen mesin dengan “akta kelahiran digital” yang mampu melacak
kondisi mesin tersebut sepanjang usia operasionalnya, sehingga para insinyur
dapat memprediksi di mana dan kapan harus melakukan perawatan. IIC juga
mengorganisir sejumlah konferensi di mana para anggotanya dapat berbagi
pengalaman dan best practicesdalam tahap awal pengimplementasian
konsep Industrial Internet, seperti Industry of Things World USA
Conference yang diadakan di San Diego pada bulan Februari 2016.
Revolusi
perindustrian ke-empat memang masih berkembang, namun perjalanan untuk mewujudkannya
sudah dimulai.
2.2 Kesiapan Indonesia
dalam menghadapi Industri 4.0
Sektor
manufaktur nasional harus siap menuju perubahan besar dalam menghadapi revolusi
industri keempat atau Industry 4.0. Konsekuensinya, pendekatan dan kemampuan
baru diperlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan
berkelanjutan. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di
sela acara World Economic Forum on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja. “Ketika
negara masuk ke Industry 4.0, pertumbuhan industri yang menyeluruh dan
berkelanjutan cenderung terjadi. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan empat
langkah strategis agar Indonesia mengimplementasikan Industry 4.0,” katanya
melalui keterangan resmi, Minggu (14/5/2017).
Pertama,
menurut Airlangga, pihaknya tengah mendorong agar angkatan kerja di Indonesia
terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan
teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan
lini produksi di industri. “Guna mendukung upaya tersebut, kami juga
menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK
dengan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga
kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu
juta orang pada 2019.
Langkah
kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya
saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar
ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini
merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi
era Industry 4.0,” imbuhnya.
Ketiga,
lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan
teknologi digital seperti Big Data atau otomatisasi industri yang digunakan
untuk mengoptimalkan jadwal produksi berdasarkan supplier, pelanggan,
ketersediaan mesin dan kendala biaya. “Sistem Industry 4.0 ini akan
memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan
mengurangi biaya sekitar 12-15 persen,” ungkapnya. Airlangga menyebutkan,
sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya
industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. “Misalnya
industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem
robotic dan infrastruktur internet of things,” tuturnya. Kemudian, di industri
makanan dan minuman, teknologi Industry 4.0 diterapkan pada pemilihan bahan
baku, tetapi untuk proses pengemasannya tetap menggunakan tenaga manusia. “Jadi
kombinasi tersebut masih labour intensive, tidak menggantikan,” tegasnya.
Langkah
keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan
memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian
Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang
dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di
Indonesia.
2.3 Kesiapan Industri
Konvensional menghadapi Industri 4.0
Konsumen
rasional memilih barang dengan harga lebih murah yang dihasilkan di dalam
pasar. Melalui digitalisasi, barang yang disediakan akan lebih murah karena
penggunaan tempat, tenaga kerja, hingga barang yang diperjualbelikan menggunakan
mekanisme lebih efisien ketimbang yang ditawarkan konvensional. Tidak lupa
berevolusinya model bisnis startuppada era ini
dengan mekanisme bakar uang mampu memberikan potongan harga dan promo yang
menggiurkan yang tentunya tidak ditawarkan oleh konvensional. Kehadiran transportasi daring di samping
memberikan peluang terciptanya lapangan kerja baru juga berisiko menciptakan
pengangguran baru jika tidak dapat diantisipasi. Sopir transportasi
konvensional seperti sopir ojek pangkalan, angkot, dan taksi berpeluang masuk
jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh
lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini. Tidak hanya sopir
perusahaan transportasi konvensional, kita masih belum berbicara mengenai
kemungkinan dirumahkannya para karyawan akibat anjloknya pendapatan perusahaan
tersebut. Serupa penyedia jasa transportasi konvensional, pedagang di kios-kios
tradisional mulai tergusur akibat gelombang e-commerce melalui
kemunculan berbagai toko daring. Para pedagang merugi dan berujung bangkrut
karena toko daring menyediakan barang yang lebih bervariasi, murah, dan mudah
diakses.
Kedua
contoh tersebut sudah mampu mengindikasikan bagaimana digitalisasi yang menjadi
bagian dari revolusi industri 4.0 mulai menggeser peran konvensional di dalam
pasar. Tidak hanya digitalisasi, ke depan penggunaan robot dalam mendukung
otonomisasi di ranah industri manufaktur dan jasa akan semakin tidak
terelakkan. Hal ini didorong keinginan perusahaan untuk memangkas biaya yang
ditimbulkan sumber daya manusia. Tuntutan kenaikan upah yang tidak diiringi
dengan produktivitas menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh
perusahaan terkait dengan sumber daya manusia. Perkembangan
teknologi yang pesat cepat atau lambat akan berpengaruh pada permintaan tenaga
kerja di masa depan. Ke depan permintaan tenaga kerja bergeser. Industri akan
cenderung memilih tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle and highly-skilled labor) ketimbang tenaga kerja
kurang terampil (less-skilled labor) karena perannya
dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan dengan otonomisasi robot.
Pertanyaannya, pernahkah memba yang kan dampaknya? Jawaban atas
pertanyaan ini bukan hanya realistis tapi juga memunculkan masalah baru;
pengangguran dunia diprediksi membengkak. Pabrik pintar sebagai produk In
dustri 4.0 nyaris tidak membutuhkan tenaga ma nusia, tenaga kerja. Mesin-mesin
dan robot pengganti tenaga manusia bakal hadir. Betul, ge lombang Industri 4.0
masih menyisakan ruang bagi tenaga manusia, tapi ini sangat terbatas hanya pada
tenaga-tenaga kerja teram pil. Dampak yang lebih mengkhawatirkan, kesejahteraan
hanya akan terpusat pada negara atau perusahaan yang mampu meng ha dirkan
pabrik pintar. Pengangguran dunia ham pir pasti meningkat justru ketika kesejahteraan
terkonsentrasi pada segelintir elite ekonomi.
"Tanpa tindakan antisipasi sejak dini, guna mengantisipasi
dampak jangka pendek transisi menuju Industri 4.0, dan upaya mela hirkan
tenaga-tenaga kerja terampil, pemerintahan di banyak negara sangat mungkin
harus menghadapi tingkat pengangguran sangat tinggi dan ketidakimbangan
kesejahteraan," ungka Schwab dalam laporan WEF bertitel The Future of
Jobs. Apalagi, tanpa munculnya Industri 4.0 saja, meningkatnya jumlah pengangguran
dunia sudah membayangi. Lihat saja laporan Organisasi Perburuhan
Internasional (ILO), World Employment and So cial Outlook, Trends 2016 (WESO).
ILO mem perkirakan angka pengangguran ratarata dunia akan terus meningkat pada
2016 hin g ga 2017 mendatang. Kendati tingkat pe ngang guran menurun di
sejumlah negara maju, namun analisis terbaru memperlihatkan kri sis
ketenagakerjaan global belum berakhir. Angka pengangguran yang meningkat
tersebut disumbangkan dari beberapa negara berkembang.
Laporan ILO menyebutkan angka terakhir untuk pengangguran pada
2015 diperkirakan mencapai 197,1 juta orang dan pada 2016 perkiraan tersebut
meningkat hingga 2,3 juta mencapai 199,4 orang. Tambahan sekitar 1,1 juta
pengangguran diperkirakan mening katkan jumlah penghitungan global pada 2017.
"Perlambatan yang berarti dalam pereko nomian di
negara-negara sudah berkembang ditambah dengan penurunan tajam dalam
harga-harga komoditas memberikan dampak yang dramatis terhadap dunia kerja,
" kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder dalam siar an persnya yang dilansir
Republika.co.id, pe kan lalu. Guy mengungkapkan banyak peker ja perempuan dan
laki-laki yang harus menerima pekerjaan berupah rendah baik di negaranegara
sudah berkembang maupun berkembang dan juga semakin meningkat di negaranegara
maju. Kendati terjadi penurunan pengangguran di sejumlah negara-negara Uni
Eropa dan Amerika Serikat, masih terlalu ba nyak orang yang menganggur. Pada
2015, jum lah pengangguran global berkisar 197,1 ju ta yang merupakan 27 juta
lebih tinggi diban dingkan tingkat pengangguran pra krisis 2007.
ILO menyebut meningkatnya tingkat pengangguran ini terjadi
lantaran beberapa penyebab seperti bertambahnya jumlah populasi dunia, jatuhnya
harga komoditas, serta terperosoknya pertumbuhan ekonomi negara berkembang.
Laporan yang sama menyebut tingkat penyerapan kerja khususnya di Brasil, Cina,
dan negara produsen minyak telah tergerus signifikan. Hal ini diperparah dengan
melambatnya perekonomian global.
"Perekonomian global tidak menciptakan kesempatan kerja
yang cukup," ujar tambah Guy. Lantaran itu, Guy berharap pemerintah men
ciptakan peluang kerja baru guna meng hindari meningginya tekanan sosial.
"Apalagi saat ini bekerja saja juga tidak cukup menjanjikan bagi seseorang
untuk keluar dari kemis kinan. Pekerjaan yang bisa didapat semisal dari sektor
informal tidak memberikan penduduk penghasilan yang cukup," jelasnya. Bukan
hanya negara berkembang. Negara maju seperti Prancis pun menghadapi masalah
peng angguran. Presiden Prancis, Francois Hol lande, dalam pidato tahunan di
hadapan para pebisnis Prancis, awal pekan lalu, malah menyebut negaranya tengah
menghadapi darurat ekonomi dan sosial menyusul mening katnya jumlah
pengangguran. Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Perancis cenderung
stagnan akibat didera masalah pengangguran, yang jumlahnya mencapai 10 persen
dari total angkatan kerja. Guna menga tasi itu, seperti dilansir CNBC,
pemerintah Pran cis siap menggelontorkan anggaran tak kurang dari dua miliar
euro untuk mengentas kan pengangguran agar ekonomi Prancis terpacu.
Angka-angka prediksi pengangguran itu baru versi ILO serta
situasi di negara berkembang dan negara maju yang mungkin belum melibatkan
kehadiran gelombang Industri 4.0. WEF sendiri memperkirakan kehadiran robot dan
mesin-mesin digital dalam perindustrian dunia akan menghadirkan tekanan di
pasar te naga kerja. Dalam The Future of Jobs, WEF memperkirakan dalam lima
tahun ke depan, 15 negara utama dunia akan mengalami kehilangan sebanyak 5,1
juta pekerjaan. Ke-15 negara tersebut mencakup Australia, Brasil, Cina,
Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Meksiko, Afrika Selatan, Turki, Inggris
dan Amerika Serikat, dita bah ASEAN dan negara teluk. Negara dan kawasan
tersebut mewakili 65 persen dari total pasar tenaga kerja global. Secara total,
WEF memprediksi dunia kehilangan sekitar 7,1 juta pekerjaan. Sedangkan posisi
pekerjaan baru diperkirakan hanya sekitar dua juta. Masih menurut The Fu
ture of Jobs, hampir semua industri di semua sektor ke mungkinan mengganti tena
ga kerja manu sia dengan mesin dan robot. Namun laporan WEF itu juga
mengingatkan penggantian terbesar mungkin terjadi di sektor industri kesehatan,
energi, dan jasa keuangan. Pada saat bersa maan, permintaan tenaga kerja
terampil akan meningkat, termasuk di bidang analisis data dan spesialis penjualan.
Kendati trend Industri 4.0 terus menguat seperti diungkap WEF,
namun sebagian kalangan berpendapat Industri 4.0 belum akan terealisasi dalam
waktu dekat. Awal Januari 2016, beberapa pekan sebelum gelaran tahun an WEF
Davos 2016 digelar, Deutsche Welle melansir hasil survey Center for European
Eco nomic Research (ZEW). Pe merintah, politisi dan pe bisnis-pebisnis besar
Jerman memang antusiasi dengan Industri 4.0. Tapi, di kalangan ke banyakan
pebisnis dan perusaha an di Jerman justru belum men cerminkan antusiasme yang
sama. Hasil survey menunjukkan hanya 18 persen dari 4.500 per usahaan responden
yang memahami istilah Industri 4.0. Selain itu hanya empat persen per usahaan
di Jerman yang sudah mulai mengoneksikan proses produksi seca ra digital dan berencana
mengimplementasikan Industri 4.0 dalam waktu dekat.
Perindustrian dunia memang sedang bergerak menuju era Industri
4.0. Suka atau tidak, model baru pengelolaan bisnis akan muncul. Pasar tenaga
kerja dan dunia kerja akan berubah drastis sebagai dampak digitalisasi kegiatan
ekonomi. Di satu sisi, kekhawatiran meningginya tingkat pengangguran akan terus
membayangi perekonomian. Di sisi lain, Industri 4.0 justru membuka peluang baru
bagi kreativitas tenaga kerja sekaligus menaik kan standardisasi tenaga kerja
terampil. Dalam konteks itulah, mungkin tak ada salahnya mengkaji kembali
strategi kebijakan eko nomi domestik, khususnya terkait perindustrian dan pasar
tenaga kerja, demi mengantisipasi dampak tren baru Industri 4.0.
2.4 Sistem informasi di dalam Industri 4.0
Penerapan teknologi
informasi dalam bidang indrustri sekarang ini telah meluas dipergunakan karena
memungkinkan proses produksi didalam industri lebih efisien dan lebih efektif.
Didalam proses produksi, komputer dapat digunakan untuk pengawasan numeric
(numerical control) atau untuk pengawasan proses (process control). Pengawasan
numeric (numerikcal control) berarti pengawasa secara otomatis terhadap posisi
dan operasi dari mesin-mesin yang dipergunakan, seperti misalnya mesin
pemotong, grenda, mesin pres dan lain sebagainya sistem pengawasan numeric ini
dilakukan dengan data numeric. Sstem komputer mengerjakan intruksi dan mengatur
hasil kerja mesin sesuai dengan data yang dimasukkan. Dengan dipergunakannya
komputer untuk pengawasan tersebut, hasil kerja dari mesin akan lebih memuaskan
dan mengurangi kesalahan. Dari beberapa bahasa komputer yang
dipergunakan membuat program untuk mengatur komputer pengawasan
numeric, diantaranya APT(Automaticallyprogrammed Tools).
Pengawasan proses (process control) berarti menyediakan otomatisasi didalam
operasi proses yang kontinyu. Komputer untuk pengawasan proses digunakan pada
indrustri untuk membuat otomatis proses produksi dan untuk mengatur secara
otomatis variable-variabel yang mempengaruhi proses produksi tersebut yang
sulit dilakukan oleh manusia yang serentak. Faktor-faktor variabel yang
mempengaruhi proses produksi dapat berupa waktu pengolahan, berat bahan,
tekanan, temperatur, ukuran, volume dan sebagainya. Komputer ini banyak
dipergunakan pada proses produksi baja, penyulingan minyak, produksi kertas,
bahan-bahan kimia, semen, makanan dan lain-lainnya.
Sistem Informasi tentu
akan masuk dalam bagian Industri 4.0 bagaimana rancangan system industri dibuat oleh ahli SI. Namun bagaimana kita
menyikapi adanya era baru itu. Maka SI Unipdu dituntut untuk mempunyai kesiapan
dalam keilmuan serta pandangan tentang revolusi industry yang akan datang
sehingga dapat bersaing dengan pelaku bisnis lainnya dan dapat berpartisipasi
didalam Industri 4.0 yang terjadi di Indonesia.






0 komentar:
Posting Komentar