Selasa, 13 Maret 2018

SISTEM FUNGSIONAL BISNIS “PERKEMBANGAN INDUSTRI 4.0”


BAB 1
PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang Masalah

Seringkali kali kita dibuat penasaran dari manakah sumber pendapatan perusahaan ketika memberikan layanan tanpa berbayar alias gratis atau bahkan memberikan jasa dengan menawarkan subsidi sehingga jasa yang diberikan jauh lebih murah ketimbang yang disediakan oleh pasar. Itulah yang dilakukan perusahaanperusahaan yang merajai pada era Revolusi Industri 4.0 sebagaimana dilakukan Google, Facebook, Uber, Airbnb, dll.

Perusahaan-perusahaan tadi berhasil merebut hati para konsumen sehingga tanpa sadar mereka terjerat menggunakan jasa yang disediakan, dan tanpa sadar pula para pengguna tadi telah menjadi komoditas yang dapat dijual kembali kepada perusahaan komersial lainnya. Lalu-intas (traffic) pengguna layanan yang telah melalui proses produksi menjadi komoditas untuk menghasilkan pendapatan secara tidak langsung. Fenomena ini menarik untuk ditelusuri lebih mendalam. Lewat makalah ini semoga pembaca dapat memahami apa itu industry 4.0 dan pengaruh terhadap industry konvensional serta peran pelaku Sistem Informasi didalammnya.

1.2.Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud Industri 4.0 ?
2. Bagaimana kesiapan Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0 ?
3. Apa pengaruh Industri 4.0 terhadap Industri Konvensional ?
4. Apa peran kita anak Sistem Informasi UNIPDU didalam Industri 4.0 ?

1.3.Tujuan yang akan dicapai dalam penulisan makalah:


1. Menjelaskan apa itu Industri 4.0
2. Menjelaskan kesiapan Indonesia dalam Industri 4.0
3. Menjelaskan pengaruh Industri 4.0 terhadap Industri Konvensional yang sudah ada
4. Menjelaskan peran Sistem Informasi pada Industri 4.0

1.4. Manfaat penulisan


1. Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang Industri 4.0
2. Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang studi kasus yang ada dalam Industri 4.0
3 Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peran pemerintah didalam era Industri yang  baru
4. Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peran SIstem Informasi di dalam Industri 4.0


BAB 2

PEMBAHASAN



2.1        INDUSTRI 4.0


Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.
 Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustionchamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.

Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, seperti yang telah disampaikan pada pembukaan tulisan ini, telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.
 Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.
 Oleh sebab itu, perusahaan harus peka dan melakukan instrospeksi diri sehingga mampu mendeteksi posisinya di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai panduan untuk melakukan introspeksi diri, McKinsey&Company memaparkannya dalam laporan berjudul An Incumbent’s Guide to Digital Disruption yang memformulasikan empat tahapan posisi perusahaan di tengah era disruptif teknologi.

Tahap pertama, sinyal di tengah kebisingan (signals amidst the noise). Pada tahun 1990, Polygram dicatat sebagai salah satu perusahaan recording terbesar di dunia. Namun, pada 1998 perusahaan ini dijual ketika teknologi MP3 baru saja ditemukan sehingga pemilik masih merasakan puncak kejayaan Polygram pada saat itu dan memperoleh nilai (value) penjualan yang optimal.
 Contoh lainnya adalah industri surat kabar tradisional yang mengejar oplah dan pemasukan dari pemasangan iklan. Kemunculan internet yang mengancam dimanfaatkan oleh Schibsted, salah satu perusahaan media asal Norwegia yang menggunakan internet untuk mengantisipasi ancaman sekaligus memanfaatkan peluang bisnis.
         
Perusahaan ini melakukan disruptif terhadap bisnis inti mereka melalui media internet yang akhirnya menjadi tulang punggung bisnis mereka pada kemudian hari. Pada tahap ini, perusahaan (incumbent) merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser posisi nyaman dari bisnis inti yang mereka geluti mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis.

Tahap kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis, namun dampaknya pada kinerja keuangan masih relatif tidak signifikan sehingga belum dapat disimpulkan apakah model bisnis baru akan lebih menguntungkan atau sebaliknya dalam jangka panjang. Namun, dampak yang belum signifikan ini ditanggapi secara serius oleh Netflix tahun 2011 ketika menganibal bisnis inti mereka yakni menggeser fokus bisnis dari penyewaan DVD menjadi streaming. Ini merupakan keputusan besar yang berhasil menjaga keberlangsungan perusahaan pada kemudian hari sehingga tidak mengikuti kebangkrutan pesaingnya, Blockbuster.

Tahap ketiga, transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent akan mengakselerasi transformasi menuju model bisnis baru. Namun demikian, transformasi pada tahap ini akan lebih berat mengingat perusahaan incumbent relatif sudah besar dan gemuk sehingga tidak selincah dan seadaptif perusahaan-perusahaan pendatang baru (startup company) yang hadir dengan model bisnis baru.
 Oleh sebab itu, pada tahap ini perusahaan sudah tertekan pada sisi kinerja keuangan sehingga akan menekan budget bahkan mengurangi beberapa aktivitas bisnis dan fokus hanya pada inti bisnis perusahaan incumbent.

Tahap keempat, adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, perusahaan incumbent sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan juga perusahaan incumbent tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Perusahaan incumbent hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.Pada tahap ini pun para pengambil keputusan di perusahaan incumbent perlu jeli dalam mengambil keputusan seperti halnya Kodak yang keluar lebih cepat dari industry fotografi sehingga tidak mengalami keterperosokan yang semakin dalam. Berangkat dari tahapan-tahapan ini seyogianya masing-masing perusahaan dapat melakukan deteksi dini posisi perusahaan sehingga dapat menetapkan langkah antisipasi yang tepat. Tantangan terberat justru kepada para market leader di mana biasanya merasa superior dan merasa serangan disruptif hanya ditujukan kepada kompetitor minor yang kinerjanya tidak baik. Oleh sebab itu, perusahaan incumbent perlu terus bergerak cepat dan lincah mengikuti arah perubahan lingkungan bisnis dalam menyongsong era revolusi industri generasi keempat (Industry 4.0).
Reed Hasting, CEO Netflix pernah mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat.

          Manufaktur yang terhubung secara digital, yang seringkali disebut sebagai “Industry 4.0”, mencakup berbagai jenis teknologi, mulai dari 3D printinghingga robotik, jenis material baru serta sistem produksi.Langkah menuju Industry 4.0  ini akan memberikan manfaat bagi sektor swasta. Produsen besar yang terintegrasi akan dapat mengoptimalkan serta menyederhanakan rantai suplai mereka, contohnya melalui sistem flexible factories . Sistem manufaktur yang dioperasikan secara digital juga akan membuka peluang-peluang pasar baru bagi UKM penyedia teknologi seperti sensor, robotik, 3D printing atau teknologi komunikasi antar mesin.
Perusahaan yang siap menyambut revolusi industri ini adalah mereka yang dapat membangun ekosistem produksi berbasis konsep Industry 4.0, seperti perusahaan-perusahaan platform-as-services (PaaS), seperti Pivotal, serta perusahaan-perusahaan lain yang dapat menyediakan infrastruktur jaringan untuk Industrial Internet. Tak heran, meskipun konsep Industry 4.0 ini masih merupakan hal yang baru, baik negara-negara maju maupun berkembang sudah siap menyambutnya, tentunya dengan alasan yang berbeda.
Bagi negara-negara maju, Industry 4.0 – sebuah istilah yang pertama kali diciptakan di Jerman – dapat menjadi cara untuk mendapatkan kembali daya saing infrastruktur, khususnya bagi negara-negara Eropa Barat, yang saat ini tidak mengalami pemotongan biaya listrik seperti di AS.  
Bagi negara-negara berkembang, Industry 4.0 dapat membantu menyederhanakan rantai suplai produksi, yang dalam hal ini sangat dibutuhkan guna mengakali biaya tenaga kerja yang kian meningkat. Sebagai contoh, rencana 10 tahun Cina yang diumumkan bulan Mei tahun lalu yang berjudul “Made in China 2025”, menargetkan sektor-sektor inti seperti robotik, teknologi informasi dan energi, dalam upaya mengubah negara yang kini dikenal sebagai “raksasa manufaktur” menjadi “penggerak manufaktur dunia” – untuk itu, Cina akan menggempur nilai investasi R&D hingga 1,7% dari jumlah total pendapatan manufaktur di tahun 2025.
Produsen besar yang terintegrasi seperti Intel atau GE sudah mulai bersiap-siap. Hanya dalam 18 bulan, Industrial Internet Consortium (IIC) yang didirikan oleh keduanya, bekerjasama dengan IBM, AT&T dan Cisco, berkembang dari hanya beranggotakan lima perusahaan hingga saat ini telah beranggotakan 200 perusahaan besar maupun kecil. Meski menjanjikan, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan Industry 4.0 dalam skala besar. Contohnya, dalam hal regulasi, para perancang kebijakan harus dapat memastikan arus data, yang merupakan jantung dari Industry 4.0, dapat bergerak dengan bebas dan aman melalui rantai suplai secara lintas negara. Hal ini akan memakan waktu yang tidak sedikit.

Selain itu, sektor swasta harus membuktikan bahwa keuntungan yang didapat dari Industry 4.0 dapat melampaui biaya yang harus dikeluarkan – baik dari segi modal maupun politik. Hal ini sudah mulai dilakukan oleh perusahaan-perusahaan seperti GE, BELECTRIC dan Kofler Energies yang menguji potensi Industrial Internet dalam menggabungkan panas dan pembangkitan listrik; atau  upaya IIC menjalankan proyek-proyek percobaan. Percobaan yang terbaru yang dilakukan IIC adalah menyediakan komponen mesin dengan “akta kelahiran digital” yang mampu melacak kondisi mesin tersebut sepanjang usia operasionalnya, sehingga para insinyur dapat memprediksi di mana dan kapan harus melakukan perawatan. IIC juga mengorganisir sejumlah konferensi di mana para anggotanya dapat berbagi pengalaman dan best practicesdalam tahap awal pengimplementasian konsep Industrial Internet, seperti Industry of Things World USA Conference yang diadakan di San Diego pada bulan Februari 2016.
Revolusi perindustrian ke-empat memang masih berkembang, namun perjalanan untuk mewujudkannya sudah dimulai.

2.2 Kesiapan Indonesia dalam menghadapi Industri 4.0

Sektor manufaktur nasional harus siap menuju perubahan besar dalam menghadapi revolusi industri keempat atau Industry 4.0. Konsekuensinya, pendekatan dan kemampuan baru diperlukan untuk membangun sistem produksi yang inovatif dan berkelanjutan. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di sela acara World Economic Forum on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja. “Ketika negara masuk ke Industry 4.0, pertumbuhan industri yang menyeluruh dan berkelanjutan cenderung terjadi. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia mengimplementasikan Industry 4.0,” katanya melalui keterangan resmi, Minggu (14/5/2017).
Pertama, menurut Airlangga, pihaknya tengah mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri. “Guna mendukung upaya tersebut, kami juga menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara SMK dengan industri,” ujarnya. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.
Langkah kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. “Program e-smart IKM ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industry 4.0,” imbuhnya.
Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data atau otomatisasi industri yang digunakan untuk mengoptimalkan jadwal produksi berdasarkan supplier, pelanggan, ketersediaan mesin dan kendala biaya.  “Sistem Industry 4.0 ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen,” ungkapnya. Airlangga menyebutkan, sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman. “Misalnya industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan sistem robotic dan infrastruktur internet of things,” tuturnya. Kemudian, di industri makanan dan minuman, teknologi Industry 4.0 diterapkan pada pemilihan bahan baku, tetapi untuk proses pengemasannya tetap menggunakan tenaga manusia. “Jadi kombinasi tersebut masih labour intensive, tidak menggantikan,” tegasnya.
Langkah keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia.

2.3 Kesiapan Industri Konvensional menghadapi Industri 4.0

Konsumen rasional memilih barang dengan harga lebih murah yang dihasilkan di dalam pasar. Melalui digitalisasi, barang yang disediakan akan lebih murah karena penggunaan tempat, tenaga kerja, hingga barang yang diperjualbelikan menggunakan mekanisme lebih efisien ketimbang yang ditawarkan konvensional. Tidak lupa berevolusinya model bisnis startuppada era ini dengan mekanisme bakar uang mampu memberikan potongan harga dan promo yang menggiurkan yang tentunya tidak ditawarkan oleh konvensional. Kehadiran transportasi daring di samping memberikan peluang terciptanya lapangan kerja baru juga berisiko menciptakan pengangguran baru jika tidak dapat diantisipasi. Sopir transportasi konvensional seperti sopir ojek pangkalan, angkot, dan taksi berpeluang masuk jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini. Tidak hanya sopir perusahaan transportasi konvensional, kita masih belum berbicara mengenai kemungkinan dirumahkannya para karyawan akibat anjloknya pendapatan perusahaan tersebut. Serupa penyedia jasa transportasi konvensional, pedagang di kios-kios tradisional mulai tergusur akibat gelombang e-commerce melalui kemunculan berbagai toko daring. Para pedagang merugi dan berujung bangkrut karena toko daring menyediakan barang yang lebih bervariasi, murah, dan mudah diakses.

Kedua contoh tersebut sudah mampu mengindikasikan bagaimana digitalisasi yang menjadi bagian dari revolusi industri 4.0 mulai menggeser peran konvensional di dalam pasar. Tidak hanya digitalisasi, ke depan penggunaan robot dalam mendukung otonomisasi di ranah industri manufaktur dan jasa akan semakin tidak terelakkan. Hal ini didorong keinginan perusahaan untuk memangkas biaya yang ditimbulkan sumber daya manusia. Tuntutan kenaikan upah yang tidak diiringi dengan produktivitas menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh perusahaan terkait dengan sumber daya manusia. Perkembangan teknologi yang pesat cepat atau lambat akan berpengaruh pada permintaan tenaga kerja di masa depan. Ke depan permintaan tenaga kerja bergeser. Industri akan cenderung memilih tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle and highly-skilled labor) ketimbang tenaga kerja kurang terampil (less-skilled labor) karena perannya dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan dengan otonomisasi robot.
  
Pertanyaannya, pernahkah memba yang kan dampaknya? Jawaban atas pertanyaan ini bukan hanya realistis tapi juga memunculkan masalah baru; pengangguran dunia diprediksi membengkak. Pabrik pintar sebagai produk In dustri 4.0 nyaris tidak membutuhkan tenaga ma nusia, tenaga kerja. Mesin-mesin dan robot pengganti tenaga manusia bakal hadir. Betul, ge lombang Industri 4.0 masih menyisakan ruang bagi tenaga manusia, tapi ini sangat terbatas hanya pada tenaga-tenaga kerja teram pil. Dampak yang lebih mengkhawatirkan, kesejahteraan hanya akan terpusat pada negara atau perusahaan yang mampu meng ha dirkan pabrik pintar. Pengangguran dunia ham pir pasti meningkat justru ketika kesejahteraan terkonsentrasi pada segelintir elite ekonomi.
"Tanpa tindakan antisipasi sejak dini, guna mengantisipasi dampak jangka pendek transisi menuju Industri 4.0, dan upaya mela hirkan tenaga-tenaga kerja terampil, pemerintahan di banyak negara sangat mungkin harus menghadapi tingkat pengangguran sangat tinggi dan ketidakimbangan kesejahteraan," ungka Schwab dalam laporan WEF bertitel The Future of Jobs. Apalagi, tanpa munculnya Industri 4.0 saja, meningkatnya jumlah pengangguran dunia sudah membayangi. Lihat saja laporan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), World Employment and So cial Outlook, Trends 2016 (WESO). ILO mem perkirakan angka pengangguran ratarata dunia akan terus meningkat pada 2016 hin g ga 2017 mendatang. Kendati tingkat pe ngang guran menurun di sejumlah negara maju, namun analisis terbaru memperlihatkan kri sis ketenagakerjaan global belum berakhir. Angka pengangguran yang meningkat tersebut disumbangkan dari beberapa negara berkembang.
Laporan ILO menyebutkan angka terakhir untuk pengangguran pada 2015 diperkirakan mencapai 197,1 juta orang dan pada 2016 perkiraan tersebut meningkat hingga 2,3 juta mencapai 199,4 orang. Tambahan sekitar 1,1 juta pengangguran diperkirakan mening katkan jumlah penghitungan global pada 2017.
"Perlambatan yang berarti dalam pereko nomian di negara-negara sudah berkembang ditambah dengan penurunan tajam dalam harga-harga komoditas memberikan dampak yang dramatis terhadap dunia kerja, " kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder dalam siar an persnya yang dilansir Republika.co.id, pe kan lalu. Guy mengungkapkan banyak peker ja perempuan dan laki-laki yang harus menerima pekerjaan berupah rendah baik di negaranegara sudah berkembang maupun berkembang dan juga semakin meningkat di negaranegara maju. Kendati terjadi penurunan pengangguran di sejumlah negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat, masih terlalu ba nyak orang yang menganggur. Pada 2015, jum lah pengangguran global berkisar 197,1 ju ta yang merupakan 27 juta lebih tinggi diban dingkan tingkat pengangguran pra krisis 2007. 
ILO menyebut meningkatnya tingkat pengangguran ini terjadi lantaran beberapa penyebab seperti bertambahnya jumlah populasi dunia, jatuhnya harga komoditas, serta terperosoknya pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Laporan yang sama menyebut tingkat penyerapan kerja khususnya di Brasil, Cina, dan negara produsen minyak telah tergerus signifikan. Hal ini diperparah dengan melambatnya perekonomian global.
"Perekonomian global tidak menciptakan kesempatan kerja yang cukup," ujar tambah Guy. Lantaran itu, Guy berharap pemerintah men ciptakan peluang kerja baru guna meng hindari meningginya tekanan sosial. "Apalagi saat ini bekerja saja juga tidak cukup menjanjikan bagi seseorang untuk keluar dari kemis kinan. Pekerjaan yang bisa didapat semisal dari sektor informal tidak memberikan penduduk penghasilan yang cukup," jelasnya. Bukan hanya negara berkembang. Negara maju seperti Prancis pun menghadapi masalah peng angguran. Presiden Prancis, Francois Hol lande, dalam pidato tahunan di hadapan para pebisnis Prancis, awal pekan lalu, malah menyebut negaranya tengah menghadapi darurat ekonomi dan sosial menyusul mening katnya jumlah pengangguran. Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Perancis cenderung stagnan akibat didera masalah pengangguran, yang jumlahnya mencapai 10 persen dari total angkatan kerja. Guna menga tasi itu, seperti dilansir CNBC, pemerintah Pran cis siap menggelontorkan anggaran tak kurang dari dua miliar euro untuk mengentas kan pengangguran agar ekonomi Prancis terpacu. 
Angka-angka prediksi pengangguran itu baru versi ILO serta situasi di negara berkembang dan negara maju yang mungkin belum melibatkan kehadiran gelombang Industri 4.0. WEF sendiri memperkirakan kehadiran robot dan mesin-mesin digital dalam perindustrian dunia akan menghadirkan tekanan di pasar te naga kerja. Dalam The Future of Jobs, WEF memperkirakan dalam lima tahun ke depan, 15 negara utama dunia akan mengalami kehilangan sebanyak 5,1 juta pekerjaan. Ke-15 negara tersebut mencakup Australia, Brasil, Cina, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Meksiko, Afrika Selatan, Turki, Inggris dan Amerika Serikat, dita bah ASEAN dan negara teluk. Negara dan kawasan tersebut mewakili 65 persen dari total pasar tenaga kerja global. Secara total, WEF memprediksi dunia kehilangan sekitar 7,1 juta pekerjaan. Sedangkan posisi pekerjaan baru diperkirakan hanya sekitar dua juta. Masih menurut The Fu ture of Jobs, hampir semua industri di semua sektor ke mungkinan mengganti tena ga kerja manu sia dengan mesin dan robot. Namun laporan WEF itu juga mengingatkan penggantian terbesar mungkin terjadi di sektor industri kesehatan, energi, dan jasa keuangan. Pada saat bersa maan, permintaan tenaga kerja terampil akan meningkat, termasuk di bidang analisis data dan spesialis penjualan. 
Kendati trend Industri 4.0 terus menguat seperti diungkap WEF, namun sebagian kalangan berpendapat Industri 4.0 belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Awal Januari 2016, beberapa pekan sebelum gelaran tahun an WEF Davos 2016 digelar, Deutsche Welle melansir hasil survey Center for European Eco nomic Research (ZEW). Pe merintah, politisi dan pe bisnis-pebisnis besar Jerman memang antusiasi dengan Industri 4.0. Tapi, di kalangan ke banyakan pebisnis dan perusaha an di Jerman justru belum men cerminkan antusiasme yang sama. Hasil survey menunjukkan hanya 18 persen dari 4.500 per usahaan responden yang memahami istilah Industri 4.0. Selain itu hanya empat persen per usahaan di Jerman yang sudah mulai mengoneksikan proses produksi seca ra digital dan berencana mengimplementasikan Industri 4.0 dalam waktu dekat. 
Perindustrian dunia memang sedang bergerak menuju era Industri 4.0. Suka atau tidak, model baru pengelolaan bisnis akan muncul. Pasar tenaga kerja dan dunia kerja akan berubah drastis sebagai dampak digitalisasi kegiatan ekonomi. Di satu sisi, kekhawatiran meningginya tingkat pengangguran akan terus membayangi perekonomian. Di sisi lain, Industri 4.0 justru membuka peluang baru bagi kreativitas tenaga kerja sekaligus menaik kan standardisasi tenaga kerja terampil. Dalam konteks itulah, mungkin tak ada salahnya mengkaji kembali strategi kebijakan eko nomi domestik, khususnya terkait perindustrian dan pasar tenaga kerja, demi mengantisipasi dampak tren baru Industri 4.0.


2.4  Sistem informasi di dalam Industri 4.0

Penerapan teknologi informasi dalam bidang indrustri sekarang ini telah meluas dipergunakan karena memungkinkan proses produksi didalam industri lebih efisien dan lebih efektif. Didalam proses produksi, komputer dapat digunakan untuk pengawasan numeric (numerical control) atau untuk pengawasan proses (process control). Pengawasan numeric (numerikcal control) berarti pengawasa secara otomatis terhadap posisi dan operasi dari mesin-mesin yang dipergunakan, seperti misalnya mesin pemotong, grenda, mesin pres dan lain sebagainya sistem pengawasan numeric ini dilakukan dengan data numeric. Sstem komputer mengerjakan intruksi dan mengatur hasil kerja mesin sesuai dengan data yang dimasukkan. Dengan dipergunakannya komputer untuk pengawasan tersebut, hasil kerja dari mesin akan lebih memuaskan dan mengurangi kesalahan. Dari beberapa bahasa komputer yang dipergunakan   membuat program untuk mengatur komputer pengawasan numeric, diantaranya  APT(Automaticallyprogrammed Tools).

            Pengawasan proses (process control) berarti menyediakan otomatisasi didalam operasi proses yang kontinyu. Komputer untuk pengawasan proses digunakan pada indrustri untuk membuat otomatis proses produksi dan untuk mengatur secara otomatis variable-variabel yang mempengaruhi proses produksi tersebut yang sulit dilakukan oleh manusia yang serentak. Faktor-faktor variabel yang mempengaruhi proses produksi dapat berupa waktu pengolahan, berat bahan, tekanan, temperatur, ukuran, volume dan sebagainya. Komputer ini banyak dipergunakan pada proses produksi baja, penyulingan minyak, produksi kertas, bahan-bahan kimia, semen, makanan dan lain-lainnya.


Sistem Informasi tentu akan masuk dalam bagian Industri 4.0 bagaimana rancangan system industri  dibuat oleh ahli SI. Namun bagaimana kita menyikapi adanya era baru itu. Maka SI Unipdu dituntut untuk mempunyai kesiapan dalam keilmuan serta pandangan tentang revolusi industry yang akan datang sehingga dapat bersaing dengan pelaku bisnis lainnya dan dapat berpartisipasi didalam Industri 4.0 yang terjadi di Indonesia.


BAB 3
KESIMPULAN


Revolusi Industri Keempat dibangun di atas Revolusi Industri Ketiga, yang juga dikenal sebagai Revolusi Digital, yang ditandai oleh proliferasi komputer dan otomatisasi pencatatan di semua bidang. Otomatisasi di semua bidang dan konektivitas adalah tanda-tanda yang nyata dari RI keempat. Salah satu petanda unik dan khusus dari RI keempat adalah terjadinya aplikasi artificial intelligence(AI). Transformasi pada RI keempat ini berbeda dari pendahulunya dalam beberapa aspek. Pertama, inovasi dapat dikembangkan dan disebarkan lebih cepat dari sebelumnya. Kedua, adanya penurunan biaya produksi marginal secara signifikan dan munculnya platform yang menggabungkan beberapa aktivitas konsentrasi di beberapa sektor dan meningkatkan agregat hasil. Ketiga, revolusi ini terjadi pada tingkat global dan akan mempengaruhi, serta dibentuk oleh, hampir semua negara. Akibatnya, revolusi industri keempat ini akan berdampak sistemik di banyak tempat. Salah satu bidang yang paling banyak terdampak oleh RI keempat adalah bidang kesehatan dan bioteknologi. Bioteknologi adalah dasar dalam hampir semua proses bioterapi farmasi dalam era RI keempat. Teknologi ini banyak diterapkan untuk memanipulasi berbagai bahan biologis yang dapat dipakai sebagai terapi untuk berbagai kondisi dan jenis penyakit, terutama yang bersifat mematikan. Beberapa teknologi yang akan berkembang dan digunakan unutk penemuan-penemuan baru adalah CRISPR, metoda komputasi dalam pencarian obat baru,penemuan target obat lewat mikrobiota usus, serta biologi sistem. Kesemuanya akan memberikan peluang dikembangkannya obat-obat baru yang dapat mengurangi angka kematian dan sekaligus meningkatkan kualitas hidup manusia.

0 komentar:

Posting Komentar